Senin, 20 Juni 2016

Review Buku Sepok 3


Review Buku Sepok 3 - Berani beda, cerita anak desa. Itulah yang pertama kali muncul di pikiran saya ketika membaca banyak karya Bang Pay. Dia memang istimewa. Mampu menghadirkan sesuatu yang sesuai dengan dirinya sendiri. Tak takut dengan arus pasar yang bisa menghanyutkannya jika terus dikejar. Dia berdiri dengan warnanya sendiri. Di tengah dominannya warna yang lain. Karyanya, terutama yang sekarang ini sedang saya baca, Sepok 3, buku yang jujur bercerita tentang seorang anak desa yang ndeso di negara orang lain.

Kita tak akan menemukan sesuatu yang membuta kita kagum karena bahasanya yang pekat dengan nuansa sastra klasik. Bukan, buku ini bukan tentang bahasa yang luar biasa pekat itu. Melainkan bahasa yang jujur, bahasa yang selalu digunakannya setiap hari. Kita pikir kita harus bisa menggunakan bahasa Indonesia yang baik ketika memutuskan akan menjadi penulis? Buku Sepok 3 akan menepis itu semua. Cukup jadilah diri sendiri ketika menulis. Jangan takut dengan apa yang orang lain pikirkan.

Sepok 3 ini menggunakan bahasa asli, bahasa daerah, bahasa ibu Bang Pay. Bahasa Melayu Pontianak. Meletop. Jangan harap akan menemukan bahasa Indonesia yang baik dan benar di dalam buku ini. Kita akan dibawa terhanyut dengan bahasa Melayu yang kental dan sangat lugas. Bahkan anak kecil pun akan bisa menikmati buku ini asalkan dia paham bahasa Melayu. Apalagi buat yang lahir dan besar di Pontianak. Buku ini wajib masuk dalam koleksi buku bacaan di rumah.

Buku ini cocok buat semua umur. Meksipun ada beberapa makian umum yang ada dalam bahasa Melayu, saya pikir itu adalah cara penulis untuk menyampaikan dengan cara yang sebenar-benarnya tentang ndesonya dirinya. Jatuh cintalah dengan buku ini karena itu akan benar-benar terjadi bahkan baru beberapa halaman teman-teman akan suka sekali dengan buku ini.

Buku ini menunjukkan bahwa kita tidak sepok sendirian. Masih banyak orang lain yang juga sama sepok-nya dengan kita. Kita saja yang kadang malu untuk mengakui betapa sepok-nya diri kita. Penulis berani menunjukkan segala tingkah polah sepok-nya melalui bukunya. Buku ini memang tentang traveling tapi memberikan kita sudut pandang yang berbeda. Kita tak akan menemukan tutorial mendatangi sebuah negara dengan rinci.

Penulis memainkan perasaan kita melalui tulisan meletopnya. Ada nilai-nilai moral yang disisipkan dalam setiap cerita, cara pandang penulis mengenai dunia ini, mengenai manusia dan kehidupannya. Sepintas ini buku untuk melawak, tapi ketahuilah sebenarnya ketika kita membacanya, kita sedang membangun jiwa kita. Membangkitkan sisi luhur yang ada di bagian sudut hati kita sebagai seorang manusia. Memanusiakan manusia dengan cara yang sangat sepok.

Saya tak akan kaget jika nantinya kisah dari buku Sepok ini akan diangkat ke layar lebar. Dunia harus lihat sisi Melayu kita. Budaya kita. Diri kita. Bahwa kita tak perlu menjadi orang lain. Tak perlu malu ketika sepok berada di negeri orang. Saat datang lagi ke kampung halaman mencoba untuk memperbaiki apa yang kita bisa di tanah kita sendiri.

Buku ini membuat saya bangga sebagai seorang Melayu dengan segala kesepokan-nya.