Kamis, 16 Juni 2016

Tradisi Meriam Karbit di Pontianak Saat Bulan Puasa



Saat bulan puasa masyarakan pontianak kalimantan barat mempunyai tradisi unik, yaitu membunyikan meriam yang beramunisi karbit. Tradisi tahunan ini hanya boleh di lakukan pada saat bulan puasa, dan pada saat hari jadi kota Pontianak saja. 

Tradisi ini sangat seru karena yang memainkan bukan hanya anak – anak saja, bahkan orang dewasa pun ikut ambil bagian dalam memainkan meriam ini . Sepanjang pesisir sungai kapuas yang merupakan sungai terpanjang di Indonesia berjajar ratusan meriam karbit , mulai dari berbahan kaleng bekas, pipa besi, bambu, bahkan kayu balok yang ukuran diameter 1 meter , bahkan 2 meter dengan panjang balok berkisar antara 4 sampai dengan 6 meter, terbayangkan suaranya sangat nyaring, radius bunyi nya mencapai puluhan kilometer.
Dan pada saat malam idul fitri diadakan festival meriam karbit, dengan dekorasi identi dengan khas suku melayu yang berdomisili di kota pontianak, ribuan orang menyaksikan even tahunan yang hanya diadakan pada malam idul fitri, mulai turis lokal, dan turis dari negara tetangga malaysia dan brunai darusalam bahkan ada juga turis dari eropa dan amerika. 

Berbagai macam cara yang di lakukan masyarakat untuk menonton festival meriam karbit tersebut, mulai dari menggunakan sampan, motoar air, speedboat, ponton, dan lain sebagainya.
Penilaian yang di lakukan dewan juri festival meriam karbit, di lakukan sembunyi – sembunyi, peserta festival tidak akan tahu siapa juri yang menilai, ini dilakukan supaya peserta siap dengan acara tersebut, yang di mulai dari selepas magrib sampai selesai.
Biasanya peraturan hanyaa boleh membunyikan meriam karbit yang berdiameter 1 sampai 2 meter ini pada H-3 dan H+3 dengan memhabis kan karbin 3 sampai 6 drum.